Paten Baterai Capai 15 Persen, BRIN Dorong Hilirisasi Riset
TechnologyIndonesia.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong percepatan hilirisasi riset dan inovasi teknologi baterai untuk memperkuat daya saing industri nasional. Langkah ini menjadi penting di tengah persaingan industri baterai global yang semakin ketat dan meningkatnya kebutuhan terhadap teknologi penyimpanan energi serta kendaraan listrik.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko, mengungkapkan bahwa sekitar 15 persen paten terdaftar di BRIN berkaitan dengan teknologi baterai. Potensi riset tersebut perlu ditindaklanjuti melalui penguatan kapasitas teknologi, peningkatan skala produksi, serta kolaborasi antara periset, industri, pemerintah, dan investor.
Menurut Nugroho, hilirisasi menjadi kunci agar hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah atau purwarupa, tetapi dapat berkembang menjadi produk yang memiliki nilai tambah ekonomi dan mampu bersaing di pasar.
“Meskipun persaingan global cukup ketat, Indonesia masih berpeluang untuk berkontribusi dalam industri baterai melalui pengembangan teknologi, manufaktur, perakitan, serta inovasi berbagai komponen pendukung,” kata Nugroho, dalam Focus Group Discussion terkait valuasi riset dan inovasi baterai di Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (6/10/2026).
Hilirisasi Baterai Tak Cukup Mengandalkan Bahan Baku
Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang besar untuk mendukung pengembangan industri baterai, terutama nikel sebagai salah satu bahan baku penting. Namun, ketersediaan sumber daya alam perlu diimbangi dengan penguasaan teknologi, kemampuan manufaktur, dan kesiapan menyelesaikan berbagai persoalan industri.
Pendiri National Battery Research Institute sekaligus Peneliti BRIN, Evvy Kartini, menekankan, potensi sumber daya alam – termasuk nikel – perlu diimbangi dengan kemampuan menyelesaikan persoalan industri melalui penerapan teknologi.
“Kita kaya akan nikel di dunia, tetapi industri memiliki banyak masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan proposal di atas kertas,” tegas Evvy.
Menurut Evvy yang juga Peneliti BRIN ini, proses pengolahan bahan baku hingga menjadi baterai dan kendaraan listrik perlu dikembangkan di Indonesia agar memberikan nilai tambah ekonomi dan mendukung terbentuknya ekosistem industri yang berkelanjutan.
Ia juga menyoroti perlunya mengarahkan riset dari tahap purwarupa menuju penyelesaian kebutuhan nyata industri. Setiap baterai yang diproduksi harus melalui pengujian keamanan sesuai standar yang berlaku, termasuk pengujian battery management system (BMS), untuk memastikan keamanan dan mencegah risiko akibat kenaikan suhu maupun pengisian daya berlebih (overcharge).
Selain itu, Evvy mendorong penyediaan fasilitas percontohan (pilot plant) untuk meningkatkan kapasitas produksi komponen dari skala gram menjadi kilogram. Peningkatan skala tersebut diperlukan agar hasil riset dapat divalidasi dan dipersiapkan menuju tahap komersialisasi.
Ia juga menekankan pentingnya laboratorium pengujian berstandar internasional serta penguasaan teknologi baterai masa depan, termasuk baterai solid-state dan natrium.
Tantangan Scale-up dan Kelayakan Investasi
Selain kesiapan teknologi, peningkatan skala produksi atau scale-up menjadi tantangan penting dalam membangun industri baterai. Teknologi yang berhasil dikembangkan di laboratorium belum tentu dapat langsung diterapkan dalam proses manufaktur berskala besar.
Endra Joelianto dari Institut Teknologi Bandung menjelaskan peningkatan skala produksi (scale-up) merupakan salah satu tantangan dalam pengembangan industri baterai. Produksi komponen pendukung, seperti selubung baterai (casing), memerlukan pertimbangan kapasitas mesin, volume produksi, dan kelayakan ekonomi.
Karena itu, pengembangan industri baterai membutuhkan sinergi konsorsium riset, pembagian spesialisasi, serta dukungan permodalan yang memadai dan berkelanjutan. “Kolaborasi perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan investor diperlukan untuk membangun ekosistem industri baterai yang terintegrasi,” ucapnya.
Dari sisi industri, Bayu Hermawan dari Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery, menyampaikan kepastian permintaan pasar menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan investasi. Selain peluang pasar domestik dan ekspor, kesiapan pasokan bahan baku, energi, air, regulasi, insentif, dan ekosistem pemasok turut memengaruhi pengembangan industri baterai.
“Konsistensi kebijakan diperlukan untuk memberikan kepastian bagi investor dalam menyusun rencana strategis dan menjaga keberlanjutan investasi yang bersifat jangka panjang,” tegasnya.
Direktur idBattery, Muhammad Firmansyah, menyoroti tantangan pengembangan kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi (energy storage) di pasar domestik. Menurutnya, persaingan dengan energi fosil yang masih memperoleh subsidi dapat memengaruhi daya saing biaya listrik dan adopsi teknologi penyimpanan energi.
Ia mendorong pemanfaatan standar internasional sebagai acuan penyusunan standar nasional, termasuk Standar Nasional Indonesia (SNI) yang mengacu pada standar global. Pendekatan tersebut dinilai membantu menyederhanakan proses pengujian dan perizinan serta mengurangi beban biaya bagi perusahaan rintisan (startup) dan industri baterai nasional. (Sumber: brin.go.id)

Average Rating