Kurang Dari 10 Persen Jamur Dunia Bisa Dimakan, BRIN Ungkap Potensinya

Read Time:3 Minute, 28 Second

TechnologyIndonesia.id – Jamur selama ini lebih dikenal sebagai bahan pangan yang lezat dan mudah diolah. Namun, di balik bentuknya yang sederhana, jamur menyimpan potensi yang jauh lebih besar, mulai dari kandungan protein, vitamin, mineral, hingga senyawa aktif yang dapat dikembangkan sebagai pangan fungsional.

Peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Iwan Saskiawan mengungkapkan bahwa rata-rata jamur memiliki kandungan protein sekitar 19-35 persen. Jamur juga mengandung berbagai vitamin dan mineral serta serat dalam jumlah yang cukup tinggi, yakni sekitar 7,4-24,6 persen.

Dalam podcast Kelas Periset BRIN di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Ir. Soekarno, Cibinong, Rabu (16/9), Iwan menjelaskan bahwa dari sekitar 10 ribu jenis jamur yang ada di dunia, hanya sebagian kecil yang diketahui dapat dikonsumsi.

“Dari sekitar sepuluh ribuan jamur yang ada di muka bumi ini, hanya sekitar kurang dari 10% spesies yang dapat dimakan atau edible,” ujarnya.

Jamur pangan yang selama ini dikenal masyarakat pada dasarnya merupakan tubuh buah dari kelompok jamur berukuran makroskopis. Berbeda dengan tumbuhan, jamur tidak memiliki klorofil sehingga tidak dapat menghasilkan makanan sendiri melalui fotosintesis.

Untuk memperoleh nutrisi, jamur menghasilkan enzim yang berfungsi menguraikan senyawa kompleks di lingkungan sekitarnya menjadi senyawa yang lebih sederhana. Senyawa tersebut kemudian diserap untuk memenuhi kebutuhan nutrisi jamur.

Kaya Protein dan Beragam Nutrisi

Potensi jamur sebagai bahan pangan semakin menarik jika dilihat dari kandungan nutrisinya. Iwan menyebutkan, rata-rata jamur mengandung protein 19-35 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan beras yang memiliki kandungan protein sekitar 7,38 persen dan gandum sekitar 13,2 persen.

Jamur juga mengandung sekitar sembilan jenis asam amino esensial. Dari sisi lemak, sekitar 72 persen kandungan lemak pada jamur merupakan lemak tidak jenuh.

Tidak hanya protein dan asam amino, jamur juga mengandung berbagai vitamin, seperti vitamin B1, B2, niasin, dan biotin. Kandungan mineralnya antara lain kalium, fosfor, kalsium, natrium, magnesium, dan tembaga.

Kandungan serat yang mencapai 7,4-24,6 persen turut memperkuat potensi jamur sebagai bahan pangan. Apalagi, jamur memiliki kandungan kalori yang relatif rendah.

“Kandungan seratnya yang berkisar 7,4-24,6% juga menjadikan jamur sebagai salah satu bahan pangan yang dapat mendukung kebutuhan serat, dengan kandungan kalori yang relatif rendah,” imbuh Iwan.

Jamur Tiram, Contoh Pangan Fungsional

Salah satu jenis jamur yang sudah banyak dikonsumsi dan dibudidayakan di Indonesia adalah jamur tiram (Pleurotus sp.). Menurut Iwan, jamur tiram memiliki kandungan protein sekitar 19-30 persen dan karbohidrat 50-60 persen. Jamur ini juga mengandung asam amino, vitamin B dan vitamin C, serta berbagai mineral, seperti kalsium, besi, magnesium, fosfor, kalium, sulfur, dan seng.

Menariknya, jamur tiram juga mengandung pleuran, senyawa gula sederhana yang disebut memiliki aktivitas antioksidan. Kandungan tersebut menjadi salah satu alasan jamur tiram dapat dikategorikan sebagai salah satu pangan fungsional.

“Jamur tiram mengandung senyawa pleuran, senyawa gula sederhana yang mempunyai aktivitas antioksidan. Karena kandungan dan manfaat tersebut, jamur tiram dapat dikategorikan sebagai salah satu pangan fungsional,” jelas Iwan.

Dari Meja Makan Menuju Bioprospeksi

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat besar, termasuk berbagai jenis jamur yang tumbuh dan berkembang di alam.

Jamur tiram dan jamur kuping menjadi beberapa jenis jamur kayu yang telah banyak dibudidayakan. Sementara itu, masyarakat di sejumlah daerah juga telah mengenal berbagai jamur yang diperoleh dari alam, seperti jamur bulan (Termitomyces sp.), jamur grigit (Schizophyllum commune), dan jamur pelawan (Heimioporus sp.).

Potensi tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan jamur tidak harus berhenti sebagai komoditas pangan. Keanekaragaman hayati Indonesia membuka peluang untuk mengembangkan jamur melalui pendekatan bioprospeksi, yakni menggali potensi sumber daya hayati untuk menghasilkan produk dan manfaat baru.

Iwan mencontohkan pemanfaatan jamur tiram dalam penanganan gizi buruk balita yang dilakukan seorang bidan desa, Sunarti, penerima Srikandi Award 2012 dari Kementerian Kesehatan. Jamur tiram diolah menjadi berbagai makanan untuk dikonsumsi balita, menunjukkan fleksibilitas jamur sebagai bahan pangan untuk berbagai kelompok usia.

Ke depan, menurut Iwan, Indonesia perlu memperkuat penguasaan mushroom science agar potensi jamur dapat dikembangkan secara lebih terarah. Kolaborasi penelitian dengan industri budidaya jamur dan perusahaan farmasi juga diperlukan untuk mendorong pengembangan bioprospeksi jamur pangan.

“Indonesia dengan keanekaragaman hayatinya yang tinggi masih menyimpan potensi pengembangan jamur pangan baik untuk bahan pangan fungsional ataupun sebagai bahan baku obat. Penguasaan ilmu tentang jamur pangan (mushroom science) diperlukan dalam hal ini,” pungkas Iwan. (Sumber: brin.go.id)

Source link

About Post Author

Redaksi

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous post Cakupan Konektivitas Tembus 90 Persen, Pemerintah Kejar Kualitas 5G
Next post Laporan Agoda 2026: Kepercayaan Developer Terhadap AI Meningkat, Biaya Jadi Tantangan