BNPB: InaRISK Harus Jadi Dasar Aksi Nyata Pengurangan Risiko Bencana
TechnologyIndonesia.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendorong pemanfaatan platform InaRISK sebagai dasar pengambilan keputusan dan aksi nyata dalam pengurangan risiko bencana. Informasi risiko yang tersedia melalui platform tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai data dan peta, tetapi menjadi acuan dalam perencanaan pembangunan, mitigasi, serta penguatan kesiapsiagaan masyarakat.
Penegasan itu disampaikan Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati, dalam Sosialisasi Platform InaRISK pada rangkaian Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2026 di Kota Serang, Banten, Rabu (14/10/2026).
Kegiatan ini melibatkan BPBD, pemerintah daerah, akademisi, dan berbagai mitra pentahelix untuk memperkuat pemahaman serta pemanfaatan data risiko bencana secara komprehensif dan terintegrasi dalam perencanaan pembangunan.
Ia menegaskan, informasi risiko bencana tidak boleh berhenti sebagai data dan peta semata. Data tersebut harus mampu menjawab kebutuhan di lapangan, mulai dari penentuan prioritas wilayah rawan, perencanaan mitigasi, hingga penguatan komunikasi risiko kepada masyarakat.
Menurutnya, penguatan pemahaman risiko menjadi fondasi penting agar setiap kebijakan pembangunan yang diambil tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga pada keselamatan dan keberlanjutan.
Perkuat Budaya Sadar Risiko
Dalam kegiatan tersebut, Raditya menyampaikan bahwa melalui platform InaRISK, BNPB mendorong pemerintah, pemangku kepentingan, dan masyarakat untuk mengenali potensi bahaya dan memahami kondisi risiko di wilayah masing-masing.
Ia menjelaskan bahwa InaRISK bukan hanya persoalan teknologi, melainkan bagian dari upaya memperkuat budaya sadar bencana dan budaya sadar risiko. Platform ini dirancang untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat, terukur, dan berbasis data.
Menurutnya, tanpa pemahaman risiko yang baik, pembangunan akan rentan terhadap kerugian. Karena itu, literasi risiko perlu dibangun sejak tahap perencanaan agar upaya pengurangan risiko menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan daerah.
Melalui platform InaRISK ini BNPB mendorong penyediaan dan pemahaman informasi risiko bencana agar pemerintah, pemangku kepentingan, dan masyarakat dapat mengenali potensi bahaya serta memahami kondisi risiko di wilayah masing-masing.
“InaRISK ini bukan hanya sekadar persoalan teknologi, tapi lebih dari itu, platform ini merupakan bagian dari upaya memperkuat budaya sadar bencana,” ujar Raditya.
Keberhasilan InaRISK Diukur dari Dampak
Ia menekankan bahwa manfaat platform tidak akan muncul hanya karena tersedia. Manfaat tersebut baru akan terasa ketika informasi di dalamnya benar-benar dipahami, digunakan sesuai kebutuhan, diperbarui secara berkelanjutan, dan diterjemahkan menjadi tindakan nyata di lapangan.
Raditya mengingatkan bahwa teknologi dan data hanyalah alat bantu. Faktor penentu adalah kepemimpinan dan komitmen untuk mengubah informasi menjadi kebijakan yang melindungi masyarakat.
“Teknologi memberikan kita kemampuan untuk melihat, data membantu kita untuk memahami, tetapi kepemimpinanlah yang memastikan bahwa pengetahuan tersebut menghasilkan tindakan,” ujar Raditya.
“Karena itu keberhasilan InaRISK tidak cukup diukur dari jumlah pengguna, keberhasilannya harus dilihat dari sejauh mana platform ini membantu pemerintah menentukan prioritas, memperkuat kesiapsiagaan, mendukung perencanaan pembangunan, dan meningkatkan kesadaran masyarakat,” imbuhnya.
Ia menegaskan bahwa kegiatan sosialisasi ini tidak berhenti pada pengenalan fitur dan cara penggunaan InaRISK Versi 4 saja, melainkan harus memastikan terjadinya perubahan dalam praktik kerja dan pengambilan keputusan di tingkat daerah maupun pusat.
Sosialisasi Berdaya Guna
Untuk itu, ia mengajak seluruh peserta untuk memegang tiga komitmen sederhana agar sosialisasi ini tidak berhenti sebagai seremonial, melainkan berdaya guna dan berkelanjutan.
Pertama, memahami dan memanfaatkan informasi risiko. Raditya meminta setiap pemangku kepentingan untuk tidak hanya mengetahui cara mengakses InaRISK Versi 4, tetapi benar-benar memahami informasi di dalamnya sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing. Mulai dari cara mengakses, membaca peta bahaya, kerentanan, hingga kapasitas.
“Jangan hanya sekadar membuka aplikasinya. Pahami informasinya. Tanyakan pada diri kita, apa arti informasi ini bagi wilayah saya, bagi tugas saya, bagi masyarakat yang saya layani,” tegas Raditya.
Kedua, menerjemahkan informasi menjadi tindakan nyata. Menurutnya, inilah tolok ukur keberhasilan yang paling penting. Bagi BPBD dan pemerintah daerah, informasi risiko harus menjadi dasar untuk menentukan wilayah prioritas, merencanakan program mitigasi, memperkuat kesiapsiagaan, serta mengomunikasikan risiko kepada masyarakat.
Sementara bagi kementerian/lembaga, informasi tersebut harus terintegrasi dalam perencanaan investasi pembangunan yang berperspektif risiko. Dengan demikian, pembangunan yang dilakukan tidak menciptakan risiko baru di masa depan.
“Keberhasilan InaRISK harus kita lihat dari sejauh mana platform ini membantu pemerintah menentukan prioritas dan memperkuat kesiapsiagaan. Jangan biarkan informasi berhenti sebagai pengetahuan. Jadikan pengetahuan sebagai keputusan,” ujarnya.
Ketiga, menyebarkan budaya sadar risiko. Raditya menekankan bahwa perubahan tidak akan terjadi jika pengetahuan hanya berhenti di forum ini. Ia meminta peserta menjadi penghubung pengetahuan di lingkungan masing-masing.
Ia juga mendorong akademisi dan mahasiswa agar riset dan inovasinya menjadi solusi nyata di lapangan, serta memastikan kelompok rentan tidak tertinggal dalam memperoleh informasi dan perlindungan.
“Budaya sadar risiko tidak bisa dibangun oleh satu lembaga. Dibutuhkan kerja sama yang terintegrasi. Jadilah penghubung pengetahuan. Pastikan tidak ada kelompok yang tertinggal, karena keselamatan adalah hak semua orang,” pungkasnya.
Jadikan Pengetahuan Sebagai Keputusan
Di akhir sambutannya, Raditya menekankan pentingnya mengubah pendekatan dari yang bersifat responsif setelah kejadian menjadi pencegahan sebelum bencana. Perubahan paradigma ini menjadi kunci untuk menekan dampak dan kerugian akibat bencana di masa mendatang.
Ia menekankan bahwa pencegahan tersebut hanya akan efektif jika dilakukan secara terintegrasi dan kolaboratif. Upaya pengurangan risiko tidak dapat dijalankan sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan keterlibatan semua pihak untuk memastikan setiap rencana pembangunan telah mempertimbangkan aspek keselamatan.
Menurutnya, dengan memahami risiko sejak awal, setiap pihak memiliki kesempatan lebih besar untuk mempersiapkan diri secara matang. Kesiapsiagaan tersebut akan menentukan kemampuan dalam mengambil keputusan yang tepat dan melindungi masyarakat secara lebih efektif.
“Mengenali risiko bukanlah alasan untuk takut, justru dengan memahami risiko kita memiliki kesempatan lebih besar untuk mempersiapkan diri, mengambil keputusan yang tepat, dan melindungi orang-orang yang kita cintai. Jangan biarkan informasi berhenti sebagai pengetahuan. Jadikan pengetahuan sebagai keputusan. Jadikan keputusan sebagai perlindungan bagi masyarakat untuk membangun Indonesia yang lebih resilien,” tutup Raditya.

Average Rating